Anggota DPR, Bowo Sidik Terjaring OTT KPK Ditemukan 400 Ribu Amplop

Jakarta, JAPOS.CO – Anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) dan kini jadi tersangka suap, ternyata sempat mengelabui penyidik KPK saat akan ditahan. Dia disebut memanfaatkan waktu saat penyidik KPK berupaya masuk ke apartemen untuk kabur.

” Sulit untuk memasuki apartemen itu, kan harus punya prosedur yang banyak, sehingga makan waktu yang cukup lama. Waktu dimanfaatkan yang bersangkutan untuk keluar dari apartemen,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (28/3).

Dalam kronologi OTT yang dijelaskan KPK, awalnya tim KPK mendapat informasi penyerahan suap Rp 89,4 juta dari Marketing Manajer PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti ke seorang bernama Indung, yang diduga orangnya Bowo, di kantor PT HTK di Gedung Granadi. 

Dari tangan Indung, KPK menyita uang yang disimpan di amplop cokelat. Selain menangkap Indung, KPK menciduk 3 orang lain, termasuk sopir Indung, di lokasi itu.

Setelah menahan Indung dkk, tim KPK meluncur ke apartemen di wilayah Permata Hijau. Namun, dari lokasi itu, KPK hanya menangkap sopir Bowo, karena Bowo sudah kabur memanfaatkan waktu saat tim KPK berupaya masuk ke apartemen.

Meski demikian, usaha Bowo untuk kabur sia-sia. Tim KPK berhasil mengendus keberadaan Bowo dan menangkap anggota Komisi VI ini di rumahnya pada pukul 02.00 WIB dini hari.

Setelah melakukan pengembangan KPK menemukan adanya uang Rp 8 miliar dalam 400 ribu amplop di dalam 6 lemari besi yang diduga untuk ‘serangan fajar’ di Pemilu 2019. Amplop – amplop berisi duit itu ditemukan sudah di tata di kardus – kardus. Duit itu disita dari sebuah kantor di bilangan Jakarta Selatan.

” Kotak-kotak amplop berisi uang tersebut ditemukan di 6 lemari besi,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Jumat (29/3).

Dari 400 ribu amplop dalam 84 kardus, KPK mengangkut duit suap itu menggunakan 3 minibus.

” KPK menggunakan 3 mobil minibus untuk membawa uang-uang dalam amplop tersebut ke kantor KPK,” kata Febri

KPK menyebut duit di dalam amplop itu berisi pecahan Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Uang itu diduga ditukar oleh Bowo sebelum dimasukkan ke amplop setelah dirinya menerima suap dalam pecahan USD dan rupiah.

Dalam  kasus ini, KPK menduga Bowo sudah menerima tujuh kali suap dari Asty dengan total duit sekitar Rp 1,6 miliar. Jumlah itu terdiri atas Rp 89,4 juta yang diterima Bowo melalui Indung saat OTT dan enam penerimaan sebelumnya, yang disebut KPK sebesar Rp 221 juta dan USD 85.130.

Selain penerimaan uang dari Asty terkait distribusi pupuk itu, KPK menduga Bowo menerima gratifikasi dari pihak lain senilai Rp 6,5 miliar. Sehingga total dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Bowo berjumlah Rp 1,6 miliar dari Asty dan Rp 6,5 miliar dari pihak lainnya yang kini masih ditelusuri KPK. (d2)

 

 214 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *