Saksi : 7 Akta Palsu Dibuat Terdakwa Tedja Dengan Scanning Tanda Tangan Saksi Korban

Jakarta, JAPOS.CO –  Sidang dengan terdakwa Tedja Widjaja di Pengadilan Negeri Jakarta Utara  atas kasus penipuan dan penggelapan kembali di gelar dengan agenda keterangan saksi, Rabu (27/3).

Saksi fakta, Bambang Prabowo yang dihadirkan kehadapan Majelis Hakim mengaku sebagai mantan asisten pribadi almarhum Thomas Peaa  menjelaskan secara gamblang apa yang dilakukan terdakwa dalam rangka menguasai dan memiliki tanah yang bukan miliknya itu (lokasi kampus UTA 45).

“ Sedikitnya 7( tujuh)  akta yang diduga palsu dibuat dalam kaitan penguasaan lahan kampus Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UTA 45) secara melawan hak (hukum) oleh terdakwa Tedja Widjaja, pemilik PT Graha Mahardika (GM). Tidak itu saja, terdakwa Tedja Widjaja diduga pula telah menyuap Kepala UPPRD Tanjung Priok, SP, Rp 1 miliar guna pemecahan SPPT PBB lahan kampus UTA 45.
Terdakwa membuat akta jual beli yang kemudian disusul dengan akta perjanjian-perjanjian. Namun akhirnya tidak dibayar uangnya sama sekali,” ujar Bambang Prabowo yang mengaku Juga pernah menjadi sebagai kuasa usaha Tedja Widjaja dan Lindawati dan menyaksikan secara langsung Pada saat penyuapan untuk Pemecahan SPPT-PBB dilakukan.

Menurut Bambang, untuk mengelabui sekaligus memperdaya UTA 45 yang waktu itu diwakili Rudyono Darsono (kini Ketua Dewan Pembina UTA 45), terdakwa menjanjikan pembayaran tanah UTA 45 dengan cara akan memberikan Bank Garansi dan Tanah di Cibubur. Namun hingga kini bank garansinya  tidak kunjung dibuat dan tanah di Cibubur tak tahu di mana rimbanya.

“ Prof Thomas sempat menanyakan ke Tedja Widjaja bagaimana nasib Bank garansi sekaligus pembayaran tanah UTA 45, terdakwa menjawab sedang dikoordinasikan. Eh kenyataannya sampai saat ini bank garansi tersebut tidak pernah direalisasikan,” tutur Bambang.

Ia menambahkan bahwa terdakwa Tedja Widjaja merekayasa seolah saksi korban Rudyono Darsono menjual saham ke Michelle Darsono. “ Itu tidak pernah terjadi, semua itu ulah Tedja Widjaja,” ungkap Bambang Prabowo seraya menambahkan bahwa tandatangan Rudyono Darsono di akta peralihan saham itu bukan dibubuhkan yang bersangkutan (Rudyono Darsono). Tetapi discan oleh Tedja Widjaja di kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan.

“ Pen-scan-an dilakukan di hadapan saya sendiri. Sedangkan Michelle Darsono sendiri saat itu sedang berada di Amerika Serikat dalam rangka sekolah. Jadi diduga dipalsu semua tandatangan di akta tersebut,” kata Bambang.

Lebih lanjut, dirinya sempat memberi tahu Prof Thomas bahwa yang dilakukan Tedja Widjaja dengan melibatkan Prof Thomas sendiri berbahaya. Namun Prof Thomas menjawab, dirinya juga tahu itu berbahaya. Mereka mengikuti apa yang dilakukan Tedja Widjaja bukan sebagai orang bodoh. “ Saya tahu semua kebohongan yang dilakukan Tedja Widjaja, ikuti saya saja,” demikian Prof Thomas sebagaimana ditirukan Bambang.

Menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fedrik Adhar , saksi menyebutkan awal kekisruhan dan sengketa lahan kampus UTA 45  setelah adanya akta perubahan susunan pengurus Yayasan UTA 45. Tedja Widjaja mencoba mengubah akta sekaligus menyingkirkan Rudyono Darsono. Dengan begitu diharapkan keinginannya menguasai sepenuhnya aset tanah kampus UTA 45 dengan secepat cepatnya tanpa harus membayar kepada Yayasan akan dapat direalisasikan.

Selanjutnya, tanah pengganti di Cibubur  yang dijanjikan terdakwa Tedja Widjaja tidak pernah kesampaian.  “ Semuanya bohong dan tipu daya saja. Saat ditagih dibuat lagi akta pengakuan hutang atau apa lagi namanya. Namun pada intinya belum ada pembayaran,” tuturnya.

Pada saat Ketua Majelis Hakim Tugiyanto mempertanyakan pembayaran tanah dengan pembangunan gedung (kampus UTA 45) delapan lantai tidak dihitung, saksi menjawab, bangunan delapan lantai itu dibiayai pembangunannya sampai tuntas oleh Rudyono Darsono.

Mengenai tindakan penyuapan oknum pejabat negara yaitu Kepala UPPTD Tanjung Priok, SP, saksi mengungkapkan dirinya ikut mengantarkan uang Rp 1 miliar tersebut kepada SP. Sejak itu pengurusan pemecahan SPPT PBB tanah yang sempat diurus saksi itu menjandi tuntas.

Melihat dan mendengar keberanian saksi fakta mengungkapkan rangkaian tindak kejahatan yang diduga dilakukan Tedja Widjaja, baik JPU Fedrik Adhar maupun Ketua Majelis Hakim Tugiyanto sempat mengingatkan Bambang Prabowo akan konsekuensi  buka-bukaan borok terdakwa yang dilakukannya tersebut . “ Saya tahu itu Pak Jaksa dan Pak Hakim. Saya siap menerima segala konsekuensinya. Rasa kecewa saya sangat besar terhadap terdakwa Tedja Widjaja,” kata Bambang.

Menanggapi atas keterangan Bambang Prabowo, Tedja Widjaja mengatakan apa yang diungkapkan saksi adalah bohong belaka. Tedja Widjaja juga membantah dirinya membuat akta-akta palsu dan menscan tandatangan Rudyono Darsono dengan anaknya Michelle Darsono. Tedja mengaku pula tidak pernah menyuap Kepala UPPTD Tanjung Priok, SP, sebesar Rp 1 miliar. Tidak pernah pula menjanjikan saham dua persen terhadap Bambang Prabowo.
Namun Tedja  mengakui telah memberikan surat kuasa kepada Saksi Fakta Bambang Prabowo, baik dari PT. Graha Mahardikka maupun Pribadi terdakwa dan Istrinya Lindawati Lesmana. (Herman.Y)

 

 181 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *