Misteri Liang Sakti Batu Gordang

Catatan: Aliman Tua Limbong (Wartawan Jaya Pos) – Bagian Ke Enam

Liang Sakti Batu Gordang, terletak di kawasan Parik Sabungan, sebuah kawasan situs budaya yang sekarang sudah dikelola Dinas Pariwisata Kab Samosir.

Jika anda pernah mengunjungi Situs Batu Sawan tersebut, tentu kita akan melihat liang (gua) tersebut, karena memang posisinya berhadapan langsung dengan situs Batu Sawan.

Pertanyaan yang menggelitik hati adalah: Apakah ini pekerjaan manusia ataukah memang berkat dari Sang Pencipta? Jika hal ini adalah karya tangan seorang manusia, lantas siapakah yang memahat alias mendesain batu tersebut ?

Secara kasat mata, jika kita perhatikan liang tersebut memang tidak mungkin dikerjakan oleh seorang manusia, karena letaknya berada di sebuah tebing yang sangat curam dan lumayan tinggi, akan tetapi bagi sang Pencipta tiada yang mustahil, apapun bisa terjadi.

Sampai sekarang gua ini masih tetap terjaga kesakralannya, tak sembarangan orang bisa masuk ke dalamnya, kecuali para perantara (hasandaran) Op Raja Biak Biak, putra pertama Op Guru Tate Bulan (baca tulisan sebelumnya).

Konon pernah suatu ketika ada seseorang yang mencoba bertapa di liang sakti tersebut, namun sampai sekarang kita tidak tahu kabar dan rimbanya.
Kembali ke pokok permasalahan yang ingin kami tuangkan dalam tulisan ini.

Lantas jika kita hubungkan ke cerita (turi-turian) para leluhur terdahulu, bahwasannya Raja Biak Biak pernah tinggal di gua sakti tersebut. Pertanyaannya, bagaimana seorang manusia bisa bertahan hidup di dalama sana?

Menurut cerita, untuk menyambung kelangsungan hidupannya, ibundanya, Boru Sibaso Bolon selalu menghantarkan nasi kepadanya (sitaruan mangan sitaruan minum), tanpa sepengetuan suaminya Op Guru Tatea Bulan dan juga anak-anak yang lainnya.

Menurut legenda yang diyakini masyarakat yang tinggal di Sianjur Mula Mula, ketika Allah Yang Maha Kuasa (Mula Jadi Nabolon) turun dari kayangan melalui Gunung Pusuk Buhit untuk menagih persembahan sekalian untuk menguji Op Guru Tatea Bulan (seperti sejarah Abraham yang diuji oleh Allah untuk mempersembahkan anaknya Ishak), dan mendengar kabar tersebut Raja Biak Biak sudah sangat ketakutan. Ia sangat yakin dirinyalah yang akan dipersembahkan kepada Mula Jadi Nabolon, karena dia sadar tentang takdir yang diberikan Yang Maha Kuasa terhadapnya, terlahir dengan kekurangan.

Masih menurut cerita, ketika Allah (Mula Jadi Nabolon) perjalanan pulang menuju kayangan, Dia melihat Raja Biak Biak yang sangat ketakutan di liang sakti tersebut, badannya gemetar, sekujur tubuhnya basah dengan keringat.

Tiba-tiba Allah (Mula Jadi Nabolon) berkata kepadanya: “ Kenapa engkau takut? ” “Bukankah engkau sengaja Ku utus ke Bangso Batak untuk mengawasi serta memberi pemahaman terhadap manusia ciptaan-Ku? Mendengar suara yang sangat mengelegar itu, seketika itu ketakutan Raja Biak Biak berubah menjadi ketenangan, karena hanya suara yang bisa dia dengar tidak ada sosok mahluk yang dia lihat.

Kemudian Allah (Mula Jadi Nabolon) bertanya kepada Raja Biak Biak, apa yang dia minta dan butuhkan. Dengan penuh keyakinan dan harapan Raja Biak Biak pun menjawab: “….Oppung asa baenommu ma nian Oppung, anggiku na opat ikkon tunduk ma tu ahu dohot sude akka pinopparna, jala Ikkon leanon ni Oppung ma di au hasaktion, asa boi huramotton sude Desa Nawalu. Jala au ma nian Oppung songon Ittean nadenggan jala Ittean naso suman tu akka jola manisia i…” Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia , Ya Mula Jadi Nabolon, hendaknya adikku berempat serta keturunannya harus tunduk kepadaku, dan Engkau akan memberikan kesaktian kepadaku agar aku bisa menguasai delapan pusaran Mata Angin (Desa Nawalu) dan jadikanlah aku pemberi tanda-tanda kemakmuran dan pemberi tanda malapetaka terhadap manusia ciptaan-Mu…”.

Memang, legenda ini hampir mirip dengan cerita yang ada di Kitab Suci Agama Kristen pada Kitab Kejadian. Dengan sekejap mata dan penuh dengan mujizat, Allah (Mula Jadi Nabolon) mengabulkan semua permintaan dari Raja Biak Biak. Setelah peristiwa itu, Raja Biak Biak pun kemudian diangkat ke Gunung Pusuk Buhit dan akan tinggal disana. Kita tidak bisa membayangkan kejadian itu, hanya Allah (Mula Jadi Nabolon) yang tahu.

Ketika Raja Biak Biak sampai di Pusuk Buhit, tidak ada pasokan makanan dan minuman. Tentu sebagai manusia pastilah merasakan lapar dan haus. Kemudia dia pun bersujud seraya berdoa (martonggo) kepada Mula Jadi Nabolon: “…Oppung nga tung male situtu au, ahama si ualahonon hu mangubati na male on Oppung, terjemahan dalan Bahasa Indonesia: Ya, Mula Jadi Nabolon, aku sudah sangat lapar dan haus, apa yang harus kulakukan ya Allah? Kemudian Allah pun menjawab doa dari Raja Biak Biak dengan berujar: “….marguling ma ho tu sambola liang an, di san adong do anon jumpang mu aek….” Terjemahan dalam Bahasa Indonesia “….Mula Jadi Nabolon pun mendengar jeritan hati Raja Biak Biak, dan dia berpesan kepadanya agar menggulingkan badannya ke arah lembah sebelah, dan disana Raja Biak Biak amu akan mendapatkan air.”

Mendengar perkataan Mula Jadi Nabolon, dengan segera ia pun melaksanakan pesan itu tanpa ragu dan bimbang, sebab sudah menyadari kekuatan dari Sang Pencipta. Setelah tiba di dasar lembah tersebut, dia pun tercengang karena apa yang disebutkan Mula Jadi Nabolon benar adanya dan dia pun menemukan sumber air tersebut, airnya sangat jernih lalu dia beri nama mual tersebut dengan nama Aek Malum yang bermakna air yang dapat menyembuhkan rasa sakit, haus dan lapar.

Hingga sekarang nama sumber air tersebut masih tetap sama yaitu Aek Malum yang dikenal banyak orang dengan sebutan Air Batu Sawan, karena tempat sumber air tersebut menyerupai cawan dan memang rasanya pun seperti perasan jeruk purut yang diyakini dapat dijadikan obat penyembuh rasa sakit dan lapar. Dan hingga saat itu pula, sumber air tersebut masih tetap lestari karena sudah menjadi salah satu situs budaya.

Berselang beberapa waktu kemudian, Raja Biak Biak kebingungan setelah sampai di lembah itu dan dia pun kembali bertanya kepada Mula Jadi Nabolon: “…Oppung, urupi majo au siminit mon ia tuat au boi Oppung alai songon dia ma asa boi au nakkok Oppung…” terjemahan dalam Bahasa Indonesia: “….Ya, Mula Jadi Nabolon saya mohon Allah bantu hamba Mu ini, jikalau turun kesana saya bisa Ya Allah namun bagaimanakah caranya saya naik dengan kondisi saya seperti ini…”

Seketika itu, dengan kuasa Allah (Mula Jadi Nabolon) Raja Biak Biak pun terangkat ke atas Pusuk Buhit yang kita kenal sekarang dan ditempatkan di lokasi daratan (tombak) dimana disana terdapat kubangan kecil yang dikenal dengan nama Mual Oppung Raja Siakkangan.

Ketika Raja Biak Biak mengalami kondisi pesakitan, Keturunan dari Op Guru Tate Bulan meyakini dan menyebut namanya dengan sebutan Raja Sisiak Bagi. Di dalam daratan tersebut, Allah (Mula Jadi Nabolon) berpesan kepadanya agar Raja Biak Biak tidak bisa lagi memakan makanan yang dimasak oleh dan melaui api, dan hanya buah serta tumbuhan ataupun bunga dan juga tumbuhan yang beraroma wangi-wangian yang sejenis dengan kemenyan (Haminjon). (bersambung….)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!