Mengakui Ideologi Pancasila, Damayanti  Teroris ” Bom Surabaya ” Di Vonis Hakim 3 Tahun 4 Bulan Penjara

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang  Kasus Terorisme Bom Surabaya dengan terdakwa Damayanti, Agus Satrio (suami Damayanti) dan Syamsul Arifin di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (14/3) dengan agenda pembacaan putusan.

Dalam persidangan sebelumnya  Tuntutan Jaksa Penuntut Umum ( JPU ) terdakwa Damayanti dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 15 Juncto Pasal 9 dan Pasal 13 Huruf C Perpu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme. Atas perbuatan terdakwa dituntut selama 5 Tahun  penjara.

Sementara terdakwa Agus Satrio Widodo dituntut selama 12 Tahun Penjara, terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan Tindak Pidana Terorisme Pasal 15 Juncto Pasal 6 dan Pasal 13 huruf c sedangkan untuk terdakwa Samsul Arifin  dituntut selama 15 Tahun Penjara.

Namun dalam amar putusan yang dibacakan Majelis Hakim menjatuhkan vonis terhadap terdakwa Syamsul Aripin alias Abu Umar terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme dan dijatuhi hukaman selama 10 tahun penjara dikurangi masa tahanan. Sedangkan terdakwa Agus Satrio Widodo divonis selama 8 tahun penjara sementara untuk Damayanti di vonis selama 3 tahun 4 bulan penjara.

Adapun yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim hal – hal yang memberatkan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana terorisme  dan perbuatan terdakwa beserta kelompoknya yaitu JAD Jawa Timur dapat menciptakan suasana ketakutan dan trauma sertea keresahan bagi warga masyarakat Jawa Timur pada khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya.

Hal – hal yang meringankan para terdakwa tedakwa bersikap kooperatif selama persidangan serta terdakwa masih mengakui ideologi Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia.

Sebagai informasi bahwa dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU ) dalam surat dakwaannya menjelaskan  bahwa terdakwa Damayanti alias Yanti berawal mengikuti kajian seminggu sekali di rumah Ilham Fauzan, Kletek Surabaya bersama Widia, Betty, Emil, Ummu Fauzan dan Kusniah sedangkan Ilham Fauzan yang menyampaikan materi.

“Materi- materi yang diberikan, antara lain Syirik, Thogut dan Anshar Thogut, larang bersosialisasi, mentafkirkan orang dan jihad, ” ujar Amril.

Menurut Amril, kelompok FAH dibawah kepemimpinan Ilham Fauzan bergabung dengan kelompok Daulah (JAD) atas ajakan Dita dibawah pimpinan Budi Satrio. Setelah pertemuan kesekian kali bahwa Ilham Fauzan menyampaikan pemahaman mereka adalah sesat dan harus segera taubat dan meminta kelompoknya untuk berbaiat ke Abu Bakar Al Baghdadi pemimpin ISIS.

“Setelah mereka bergabung dan melakukan pertemuan kembali dengan kajian Daulah yang sesuai manhaj tentang dunia jihad, keutamaan jihad dan mati syahid bagi yang akan melaksanakan jihad bagi kelompok JAD yang berjuang dalam melaksanakan aksi penyerangan kepada Thogut (Pemerintah yang tidak berhukum kepada Allah) dengan cara berperang atau bom bunuh diri dengan menggunakan senjata api, parang atau pedang juga pisau dapur untuk pelaksaan penyerangan,” ujarnya.

Lanjut Amril, Abu Umar selaku ketua JAD Jawa Timur datang ke rumah terdakwa atas undangan Budi Satrio dan mengisi tausiyah yang dihadiri Budi Satrio, Abu Halim, Tri, Budi Pacet, Akib, Ilham Fauzan, Mashuri, Diki, Latif, Boy, Munif, Dita, Anton dan termasuk isteri- isterinya. Hal yang disampaikan penyamaan manhaj Daulah dan konsekwensi berjamaah serta ketaatan kepada amir dan dilarangnya bermaksiat kepada amir.

Kemudian sekitar bulan Mei 2018 Tri alias Bonda membawa 3 buah kerdus yang berisi bom yang berasal dari Dita pelaku bom bunuh diri dihantarkan ke rumah Ilham Fauzan yang diserahkan kepada Emil (isteri Ilham Fauzan). Tri juga berpesan bahwa kardus tersebut ditujukan kepada Widodo beserta uang Rp.11 juta.

Selanjutnya setelah diketahui Ilham Fauzan bahwa masih ada sisa bom dari yang dipakai Dita maka Ilham Fauzan menemui Agus Satrio (suami terdakwa) di Sidoarjo Jawa Tengah kemudian berdua berangkat menemui Sutrisno dan menitipkan kardus yang berisi bom pipa dan bom cangkir beserta uang Rp.11 juta, namun Sutrisno menolak dan memintanya dibawa kembali.

Amril juga menerangkan bahwa kardus yang berisi Bom pipa di rumah kontrakan terdakwa sudah terpasang kabel kabel dan sudah ada detonatornya sebanyak 6 buah dan 48 buah bom cangkir yang sudah dipasang tutup besi.

“Agus Satrio (suami terdakwa) bersama Bety membongkar semua material Bom cangkir dan memasukannya kedalam plastik namun Bom pipa tidak bisa di bongkar mengingat bom pipa sangat berbahaya,” ungkapnya.

Terdakwa bersama Bety setelah merapikan dan memasukannya dalam karung untuk dibuang. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan barang bukti berupa bom pipa dan bom cangkir tersebut. Namun tidak lama polisi menangkap terdakwa, Widodo dan juga Bety.@D

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!