Majelis Hakim Harus Tegas Terhadap Saksi Terdakwa Tedja Widjaja

Jakarta, JAPOS.CO – Pengadilan Negeri Jakarta Utara menggelar Sidang perkara penipuan dan Pengelapan dengan Terdakwa Tedja Widjaja dengan agenda Saksi yang meringankan dari Terdakwa, Rabu (6/3).

Majelis hakim diminta agar tegas terhadap saksi – saksi yang meringankan terdakwa yang selalu menjawab katanya atau tidak ingat.

Di dalam persidangan keterangan saksi Dwito, semua yang di ceritakan saksi adalah kejadian antara tahun 2009 sampai dengan 2011 dimana saksi belum ada sama sekali di PT tersebut. Pada saat itu Dwito menjadi Direktur  PT. Graha Mahardikka tahun 2012 dan Saksi pelapor Rudyono Darsono sudah mengundurkan diri.

Kesaksian Dwito bisa menjadi saksi dari terdakwa ( a de charge ) patutu dipertanyakan pasalnya  yang bersangkutan tidak mengetahui sama sekali kejadian tersebut  dengan saksi pelapor Rudyono Darsono yang selalu berbicara katanya dan katanya atau mendengar cerita dari orang lain tanpa mempunyai Bukti- bukti apapun.

Saksi Dwito selama di persidangan setiap menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim selalu menjawab dengan katanya dan lupa. Namun kesaksiaannya tersebut masih saja terus dilanjutkan oleh Ketua Majelis Hakim Tugianto untuk memberikan keterangan. Seharusnya dicegah karena saksi banyak tak mengerti tentang duduk permasalahan di Yayasan UTA 45 Jakarta.

Seperti yang disampaikan bahwa ia masuk di tahun 2012 setelah Rudyono Darsono mengundurkan diri.  Bahwa ia bersaksi secara ngarang dan tak ada data. Bukannya bersaksi haruslah orang mengetahui dan melihat kejadian, sementara Dwito Kustidja Hindarto hanya menerangkan katanya. 

Saksi mengaku dirinya adalah pemegang saham PT Graha Mahardika sekitar 40,% PT GM bergerak dibidang pembangunan properti. Saksi menjabat sebagi Dirut PT GM pada 2012.

Pada saat majelis hakim menanyakan soal perjanjian jual beli tanah dan pembangunan gedung. selanjutnya menurut saksi , Hindarto Budiman (ayah dari saksi) masih hidup ada perjanjian dengan Yayasan Uta ’45 dalam hal jual beli tanah yayasan dan pembangunan gedung sekitar tahun 2010. Saksi juga menerangkan bahwa diriya tahu mengenai kesepakatan harga tanah yang di jual Yayasan Uta’45 yaitu Rp 65 milyar.

”  sudah ada pembayaran Rp 90 juta dengan rincian ada berupa pembangunan gedung , uang tunai, dan melalui transfer,” ujar Dwito.

Sementara JPU Fedrik menanyakan,” apakah saksi memiliki data pendukung untuk keteranganya itu misalkan bukti transfer,”kataJPU. Saksi mengatakan,”tidak mengetahui,” ucapnya.

Serentak saja keterangan saksi membuat pengunjung sidang nyeletuk, artinya pihak Yayasan untung dong Rp 25 milyar dari kesepakatan Rp 65 milyar tapi yang dibayarkan Rp 90 milyar lalu untuk apa capek-capek laporkan terdakwa kalau gak ada yang dirugikan ? Ini tipu diatas tipu namanya terdakwa benar-benar pandai didatangkan saksi untuk menutupi kesalahanya .

Selama persidangan Ketua majelis Hakim saat bertanya kepada saksi , terkesan berambisi sekali untuk menggiring perkara pidana ini keranah perdata.

Terdakwa dihadapkan ke persidangan oleh JPU karena didakwa telah melakukan penipuan dan penggelapan hingga menyebabkan aset Yayasan Uta’45 berupa tanah yang telah berpindah tangan karena perbuatan terdakwa merugikan pihak Yayasan Uta’45 Jakarta.(H.Yusuf)

 402 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *