Jaksa Tuntut Bos PT Hadtex Dihukum 2 Tahun Penjara

Kab. Bandung, JAPOS.CO – Sidang pembacaan tuntutan bos PT Hadtex, H.H alias Koka dilaksanakan pada Senin (25/2) yang lalu. Dua Jaksa Penuntut Umun, Evy Yanto, SH dan Syarifuddin, SH secara bergantian membacakan salinan tuntutan terhadap terdakwa setebal 18 halaman.

Jaksa menuntut terdakwa H. H alias Koka dengan hukuman penjara selama 2 Tahun, dengan Pasal yang terbukti yaitu pasal 266 ayat 2 yaitu dalam dakwaan alternative pertama. Terdakwa juga disangkakan melakukan perbuatan dengan sengaja memakai akte yang seolah-olah isinya mengandung kebenaran, padahal dengan pemakaian akte tersebut telah menimbulkan kerugian terhadap Husen Lumanta, dalam pembacaan tuntutannya JPU juga meminta supaya AJB No.306 dikembalikan kepada Husen Lumanta, AJB 164 dan resi pendaftaran serta Warkah tetap terlampir dalam berkas perkara, buku Letter C No.1674 an Kandi nyi Enda Persil 90 S III dan Letter C an Saamaah Kohir 733 Persil 90 S III dikembalikan ke Desa Cangkuang Kulon melalui Gugun Hidayat Permana.

Saat persidangan pembacaan tuntutan, terdakwa H.H hanya didampingi satu orang penasehat Hukum, padahal saat sidang-sidang sebelumnya terdakwa selalu didampingi satu tim penasehat hukumnya yang diketuai oleh Kuswara S Taryono, SH MH.

Detelah Jaksa Penuntut Umum selesai membacakan tuntutannya, Penasehat Hukum H.H langsung meminta kepada Majelis Hakim agar memberikan kesempatan kepada kliennya untuk membacakan pembelaan. Ketua Majelis Hakim Sihar Hamonangan Purba pun memberikan waktu kepada terdakwa untuk membacakan pembelaanya pada hari kamis (28/2) mendatang.

Selesai persidangan, jurnalis japos.co melakukan wawancara dengan JPU Evy Yanto, SH. Saat ditanya apakah tuntutan dua tahun dari Jaksa sudah memberikan rasa keadilan bagi pelapor Husen Lumanta ? Karena fakta persidangan sebenarnya tanah Husen Lumanta sudah puluhan tahun diduduki oleh terdakwa, Evy Yanto mengaku kalau JPU sudah sangat adil menuntut terdakwa dengan tuntutan penjara selama dua tahun.

“Ada yang menjadi pertimbangan JPU terhadap terdakwa, karena selama persidangan terdakwa berlaku sopan dan juga belum pernah dihukum” ungkapnya.

Saat diminta tanggapannya mengenai sidang minggu lalu, apakah JPU tidak merasa tersudutkan oleh keterangan Ahli Hukum Pidana dan Perdata yang saat itu dihadirkan oleh penasehat Hukum terdakwa dalam persidangan ? Karena keterangan Ahli secara tidak langsung seolah-olah sudah menegaskan kalau sebenarnya terdakwa H.H tidak dapat didakwa dengan pasal 266 ayat 2 dan pasal 263 ayat 2, JPU mengatakan keterangan dua Ahli pada persidangan minggu lalu tetap mereka hargai, tetapi JPU juga mengaku mempunyai bukti-bukti yang kuat untuk mendakwa H.H didalam persidangan, oleh karena itulah Jaksa meyakini kalau terdakwa H.H memang telah melakukan perbuatan melanggar hukum dengan cara memalsukan Akte sebidang tanah yang sebenarnya adalah milik Husen Lumanta.

Pada tanggal 18 Februari 2019 yang lalu, Penasehat Hukum Kuswara S Taryono melakukan konfrensi Pers dengan awak media dilingkungan PN Bale Bandung. Pada kesempatan itu, Kuswara mengatakan dalam persidangan mendengarkan keterangan dua Ahli Hukum Pidana dan Perdata yang ia hadirkan. Menurutnya, semua keterangan Ahli meringankan kliennya.

Saat ditanya awak media apa langkah selanjutnya yang akan dipersiapkan oleh Penasehat Hukum untuk membela terdakwa setelah pembacaan tuntutan ? Kuswara mengaku akan mempersiapkan bukti surat, keterangan saksi dan keterangan Ahli. “Kemudian akan kami uraikan dan rangkum saat melakukan pembelaan,” paparnya.

Informasi yang diperoleh saat persidangan antara terdakwa H.H alias Koka dan Husen Lumanta sebenarnya sudah bersahabat sejak masa kecil dan keduanya bernasib baik karena bisa menjadi pengusaha sukses ditanah perantauan, namun persahabatan kedua pengusaha ini harus berakhir dimeja hijau. (Hendri.H)

 853 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *