Saksi Rahayu Mengakui Memberikan Keterangan Palsu Dipersidangan

Jakarta, JAPOS.CO – Dalam keterangan dipersidangan sebelumnya, saksi Rahayu diduga telah memberikan kesaksian palsu dibawah sumpah atas perkara Penipuan dan Penggelapan dengan terdakwa Tedja Widjaja.

Saksi Rahayu kembali hadir untuk dikonfrontir dengan Penyidik Boy F dari Unit II Harda PMJ dihadapan Ketua Majelis Hakim, Tugiono pada Kamis (20/2).

Rahayu akhirnya mengaku tentang kebenaran  bukti dalam BAP kepolisian dan juga mengaku saat pemeriksaan saksi di kepolisian dalam keadaan sadar, yang dalam persidangan sebelumnya Rahayu mengaku dalam keadaan tertekan dan strees. 

Konfrontir Dengan Saksi Verbal Lisan dari Polda Metro Jaya 

Dengan hadirnya saksi Boy, sebagai saksi Verbal lisan yang juga penyidik, Rahayu tak bisa lagi berkutik, sehingga akhirnya membuka titik terang pada persidangan Penipuan dan Penggelapan yang dilakukan oleh Terdakwa Tedja Widjaja tersebut, dengan mengakui BAP yang ditanda tanganinya pada penyedikan di  Kepolisian. Setelah sebelumnya Rahayu sempat mengingkari keterangannya sendiri dalam BAP alias telah memberikan kesaksian yang tidak benar atau palsu. Sehingga majelis hakim dan JPU sepakat untuk menghadirkan saksi Verbalisan dalam persidangan.

Saksi perbalisan Boy dari penyidik Polda Metro Jaya menerangkan bahwa pada saat penyidikan pemeriksaan, Rahayu dalam keadaan tenang tanpa tekanan. Saksi diperiksa dua kali, pertama pada saat klarifikasi penyelidikan dan yang ke-dua penyidikan antara klarifikasi dengan penyidikan beselang waktu sekitar sebulan klarifikasi sebelum penyidikan.

Setelah diperiksa, kemudian BAP di print. Saksi diperintahkan untuk membaca dan menandatanginya. Pemeriksaan berjalan kurang lebih tiga jam dimulai pukul 10:00 WIB, saksipun memperlihatkan foto suasana pada saat pemeriksaan saksi Rahayu.

Dihadapan Majelis Hakim Tugiono, Rahayu mengatakan mengetahui tentang table pembayaran yang ada dalam BAP padahal dalam persidangan sebelumnya tidak mengakui keteranganya itu namun mengenai uang sebesar Rp.16 juta untuk pembuatan Bank Garansi Rahayu tetap mengatakan tidak tahu.  

BAP Sudah Dibaca Sebelum Diparaf dan Tandatangani 

Dalam hal ini Hakim mengatakan, “Penyidik sudah memerintahkan dan memberikan waktu untuk dibaca sebelum ditanda tangani dibaca atau tidak itu hakmu, tapi sudah dikasih kesempatan untuk baca. Secara subtansi BAP sudah diakui oleh saksi,” ucap Tugiono.

“Soal pertentangan atara Rahayu dan penyidik kita tidak tahu mana yang berbohong,” pungkasnya.

Pasal 7 akta No. 58, Kesepakatan Batal dan Seluruh tanah yang diperjanjikan harus di kembalikan kepada pihak  Pertama (Yayasan PT. 17 Agustus 1945 Jakarta).

Sementara itu, saksi Notaris Lili menerangakan pihaknya membuat akta No. 58 tertanggal 28 Oktober 2009 tentang melanjutkan kerja sama antara Uta’45 dan PT Graha Mahardika . Pihak pertama Uta’45 diwakili oleh Rudyono Darsono dan pihak ke-2 Tedja Wdjaja (terdakwa) sebagai wakil dari PT GRQHA Mahardikka. Keduanya hadir dan mengakui telah ada rencana jual beli serta mengakui telah ada pembayaran dari pengakuan itu maka dibuatlah Akta No. 58. Tentang pembayaran saksi tidak tahu, namun secara jelas tertulis pada point 7 Akta tersebut, kesepakatan otomatis batal demi hukum apabila pihak kedua atau PT Graha Mahardikka tidak dapat melaksanakan kewajibannya sampai dengan akhir 2012.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fedrik Adhar dalam dakwaannya pada awalnya Perkara pnggelapan dan penipuan berwal pada tanggal 10 Oktober 2011, Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta melakukan perjanjian kerja sama dengan PT Graha Mahardika yang ditandatangani oleh (terdakwa) Tedja Widjaja dengan Dedy Cahyadi mewakili Kampus 17 Agustus 1945 Jakarta. Kemudian terjadilah perbuatan penipuan dan penggelapan oleh terdawa termasuk memecah sertifikat lahan dengan memalsukan dokumen yayasan.

Terdawa Tedja Widjaja berhasil melancarkan aksinya dan meraup uang hasil penjualan lahan milik Yayasan Universitas 17 Agustus 1945 (UTA ’45) seluas 3,2 hektare (ha) lebih atau senilai Rp.60 miliar lebih. Dalam dakwaannya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tedja widjaja diancam melanggar padal 378 jo pasal 372 KUHP dan persidangan akan dilanjutkan minggu depan. (Her)

 233 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *