Pemahaman Naimarata

Oleh : Aliman Tua Limbong

Berbicara tentang silsilah (tarombo) tentu mengundang argumen yang tidak  kunjung henti, bahkan mengundang polemik antargaris keturunan maupun antar garis marga. Walaupun yang diperdebatkan terkadang tidak dimengerti. Itulah sebabnya        kami mencoba menggugah hati pembaca melalui tulisan ini agar kita duduk bersama untuk menyatukan persepsi. Jika tidak bisa dipahami mohon jangan di perdebatkan, akan tetapi berilah masukan biar kita diskusikan bersama. Sebab Legenda atau mitos hanya  ceritera mulut kemulut tidak ada tertulis, untuk itulah penulis memberanikan diri walaupun masih banyak kelemahan dan kekurangan. Sebab orang bijakmengataka,  “ Yang saya ketahui belum tentu kutulis tetapi yang kutulis pasti kuketahui ”.

Ketika kita membicarakan Naimarata muncul argumentasi  yang kontropersial misalnya seseorang menyatakan kami adalah Pomparan Oppu Guru Tatea Bulan bukan Naimarata.  Sementara mereka tidak memahami  apa itu Naimarata dan apa itu Oppu Guru Tate Bulan. Padahal pandangan Penulis Namairata itu bukan Nama melainkan wadah [paguyuban]  keturunan   Oppu Guru Tatea Bulan. Jika kita mengurutkan keturunan Raja Batak secara umum mengakui anaknya 2 yakni, Oppu Guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon. Oppu Guru Tatea Bulan mempunyai 10 keturunan yakni Lima putera dan  Lima puteri.

  1. Raja Gumelenggeleng (Raja sakti),
  2. Saribu Raja,
  3. Limbongmulana,
  4. Sagala Raja,
  5. Silau Raja.

Dan Kelima Putrinya adalah :

  1. Biding laut,
  2. Siborupareme,
  3. PunggaHaumasan,
  4. SiantingHaumasan,
  5. Nantinjo yang mempunyai legenda tersendiri,dilain kesempatan akan kitatulis ceriteranya.

Sepuluh bersaudara ini menurut legenda lahir kembar. Menurut ceritera pendahulu kita, Raja yang sakti kembarannya Boru Biding laut, Saribu Raja kembarannya boru Pareme Limbongmulana kembarannya Pungga Haumasan, Sagala Raja kembarannya Boru Anting Haumasan dan Silau Raja kembarannya Nantinjo. Ceritera ini bila kita  analogikan dekatnya hubungan batin Saribu Raja dengan Siboru Pareme demikian juga Silau Raja dengan Nantinjo. Itulah sebabnya Pulau Tao yang berada didaerah Simanindo sekarang  sering kita dengar disebut Pulau Malau.

Tentu timbul beberapa asumsi dari masyarakat, darimana muncul kata Naimarata jika kita hubungkan dengan pomparan Oppu Guru Tatea Bulan. Diterima atau tidak adalah  hak  pembaca, yang kami tulis ini legenda. Sebelum manusia berkembang di Sianjur mula mula, bisa kita bayangkan hubungan manusia dengan Allah yang disebut Mulajadi Nabolon masih dekat. Apa yang tertulis di  Alkitab bersamaan dengan legenda yang terjadi di Sianjur mula mula dimana Allah telah berpesan kepada Oppu Guru Tatea  Bulan agar mempersembahkan Putera kesayangannya yaitu Saribu Raja. Setelah pesan disampaikan Mulajadi Nabolon langsung menghilang daripandangan Oppu GuruTatra Bulan. Dengan hati yang tulus dan iklas Oppu Guru Tatea Bulan menuruti permintaan Mulajadi Nabolon (Allah). Pada hari yang ditentukan Op. Guru Tatea Bulan membaringkan Tuan Saribu Raja disalah satu tempat, lalu Oppu Guru Tatea Bulan  memanjadkan doanya menyerahkan anaknya dengan tulus dan iklas, Allah pun segera turun ke Sianjurmula mula melalui Gunung Pusuk Buhit persisnya di Pariksabungan.    

Setelah melihat ketulusan Oppu Guru Tatea Bulan Allah pun berkata ” sudahlah Saya sudah memahami keikhlasan mu, ambilah daun hijau (Bulung Rata) bantingkanlah ketubuh anak kesayangan mu, anak mu akan hidup kembali”. Dengan segera Oppu Guru Tatea Bulan mengambil daun hijau dan melakukan apa yang telah dipesankan Allah (Debata mula jadina bolon) kepadanya, lalu tidak berapa lama bangunlah Tuan Saribu Raja berdiri  tegap dan kekar lalu membusungkan dadanya dengan posisi tangan di pinggang. Pada saat itulah Allah (Mulajadi Nabolon) memberikan benda mujizat yakni Pungga  Haumasan dan Cincin (Tintin Sipajadi Jadi)  dengan Tawar Parabang Abang  Tawar Parubung Ubung, sipangolu naung mate siparata naung busuk artinya bisa menghidupkan orang mati akibat diguna- gunai alias dimantra serta bisa menyegarkan benda yang sudah busuk pada Zamannya.

Sedangkan Pungga haumasan khasiatnya ketika sipemilik benda ini lapar tinggak dijilat saja maka rasa lapar akan hilang, ketika haus tinggal dicium saja rasa haus akan hilang. Sedangkan Cincin sipajadi jadi  permintaan bisa terkabul disaat perlu dan genting. Sampai  sekarang orangtua selalu berpesan  ketika terik matahar disertai gerimis disarankan agar melengketkan sehelai daun hijau seraya mengucap ” Nionbulung rata, rata ma parjanjian ” maksudnya agar janji itu selalu melekat pada keturunan Oppu Guru Tatea Bulan biar dijauhkan dari mara  bahaya, secara tidak langsung pesan tersebut masih terwarisi kepada generasi penerus. Maka melalui tulisan ini kami mencoba menawarkan kepada kita, ketika kita membuat nama perkumpulan jangan dilupakan Naimarata, misalnya Perkumpulan.  NAIMARATA SE-INDONEDIA (Guru Tatea Bulan).

 

 

 

44 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!