Edi Mulyono : Yang Penting Anak Harus Sekolah, Masalah Biaya Belakangan

Bukittinggi, JAPOS.CO – Kepala SMA Pembangunan Kota Bukittinggi, Edi Mulyono targetkan siswanya untuk mendapakan jatah SNMPTN lebih banyak lagi dibandingkan tahun lalu .

“Jumlah siswa yang memperoleh SNMPTN plus bidikmisi 16 orang, namun pastinya perolehan siswa SNMPTN tahun ajaran 2018-2019 diumumkan pada 4 Februari bulan ini, jelas Edy Muyono.

Siswa SNMPTN yang berhasil membawa nama sekolah swasta tersebut tersebar di berbagai perguruan tinggi, yaitu Universitas Negeri Padang, Unand, UNPAD, UWIN Pekan Baru, Universitas di Jogjakarta.

Kepala SMAP Bukittinggi ini memegang prinsip untuk mendahulukan kepentingan pendidikan dari pada biaya sekolah sekalipun sekolah swasta yang kesejahteraan gurunya diambil dari dana komite sekolah.

Prinsip Edy Mulyono ingin membantu warga Kota Bukittinggi yang  tidak mampu. Targetnya siswa tetap belajar dan urusan biaya pendidikan belakangan, bahkan ada siswa yang sampai setahun tidak membayar dana komite.

“Per bulan setiap siswa dibebankan dana komite sebesar Rp.120 ribu. Sementara uang pembangunan dipunggut hanya Rp.800 ribu saat pertama masuk sampai tamat. Jika dibanding sekolah lain, sangat beda jauh, sekolah lain biaya pembangunan setiap tahun dilakukan punggutan dengan berfariasi, seperti saat masuk bayar dulu katakanlah Rp.800 ribu, setelah naik kelas 8, biaya pembangunan menjadi Rp.600 ribu dan sampai kelas 9 tetap dilakukan pungutan. SMAP Bukittinggi yang sampai sekarang memiliki gedung dengan status sewa di komplek Kodim, namun kondisi PBMnya yang nyaman sehingga berhasil mengangkat akreditasi nya menjadi A,” jelas Edy Mulyono.

Menghadapi UMBK, pihak sekolah menyiapkan ruangan labor dua lokal dengan kapasitas 30 orang per lojal, sehingga siswa dibagi menjadi beberapa sesi. Di dalam ruangan, siswa diawasi oleh dua orang pengawas serta operator dan tekhnisi jika adanya gangguan kerusakan jaringan.

Edy Mulyono kepala sekolah yang sudah puluhan tahun dipercaya Yayasan untuk mengelola sekolah swasta SMAP kota Bukittinggi  selalu berjuang dan berusaha untuk mendapatkan sarana dan prasara pendidikan, seperti kebutuhan komputer yang merupakan kebutuhan wajib. Usaha tersebut membuahkan hasil pada pelaksanaan UMBK pertama kalinya di sekolah tersebut, pasalnya sekolah mendapatkan bantuan 50 unit komputer dari Bank Indonesia. (Yet)

 938 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *