Sidang Kasus Penipuan, Saksi Indra Membongkar Kepribadian Terdakwa Tedja Widjaja

Jakarta, JAPOS.CO – Pengadilan Negeri Jakarta Utara kembali mengggelar siding kasus penipuan/penggelapan dengan agenda sidang mendengarkan saksi, Indra  (23/1/19).

Dalam persidangan Majelis Hakim menanyakan kepada saksi apakah benar membeli 2 ruko. Saksi menjawab Benar. Majelis menanyakan kembali, bisa dijelaskan. Saksi menjawab, pada tahun 2011 istri Terdakwa Lindawati Lesmana berteman dengan istri saksi dan menawarkan ruko. Kemudian dilakukan pertemuan dengan Terdakwa di suatu tempat di daerah sekitar Kelapa Gading. Dalam pertemuan tersebut Terdakwa mengatakan sedang membangun perumahan di daerah Sunter Permai dan memberikan brosur perumahan tersebut dengan harga 1 unit ruko seharga Rp.2,6 miliar. Semua penawaran, komunikasi langsung dengan Terdakwa dan mengaku itu adalah miliknya. Dengan berprasangka baik, saksi membeli 2 unit ruko dengan total harga Rp.5,2 miliardengan cara KPR melalui Bank Artha Graha dan sekarang telah lunas cicilan.

Kemudian Majelis Hakim menanyakan, apakah Terdakwa cerita kepada saksi, kenapa ruko belum dibangun juga. Saksi menjawab, Terdakwa pernah menceritakan permasalahan yang ada. Lalu kembali Majelis Hakim menanyakan, apa kesimpulan saksi atas cerita Terdakwa tadi. Saksi menjawab, intinya yang mulia, jika ijinnya benar dan Terdakwa benar, tentunya ijin membangun akan keluar. Tetapi jika Terdakwa tidak benar, maka ijin membangun tidak akan keluar.

Saksi Indra Dipersidangan Menerangkan Uangnya Masih Belum Dikembalikan Terdakwa. Tedja Widjaja Hanya Janji-Janji Saja

Pada saat saksi melakukan proses KPR di bank Artha Graha tahun 2011, pihak Bank Artha Graha memberitahukan kepada saksi bahwa sertifikat tanah ini sudah diagunkan kepada kami.

Terbukti Terdakwa Tedja Widjaja Tidak Ada Itikad Baik

Pada saat saksi belum mendapatkan ruko yang sudah dibeli dan dilunasi, saksi terus menagih dengan semua cara, akan tetapi yang dapat ditemui hanya anak buah Terdakwa. Telepon Terdakwa tidak diangkat dan tidak bisa dihubungi. Akhirnya pada tahun 2013, saksi tidak ada jalan lain selain menggugat Terdakwa untuk mencari keadilan.

Setelah persidangan sampai menjelang putusan, Terdakwa mengajak damai dan persidangan tidak sampai selesai telah terjadi perdamaian dan saat itu dananya belum dikembalikan. Kemudian pada tahun 2014 Terdakwa membuat akta perjanjian yang intinya akan mengembalikan tetapi tidak ada batas waktu atau kapan Terdakwa mau mengembalikan dana saksi. Saksi hanya mendapatkan akta perjanjian, kemudian saksi terus menagih dan menagih. Akhirnya pada akhir 2017, Terdakwa mengembalikan dana sebesar Rp.4 miliar dan membuat akta perdamaian, sisanya Terdakwa katakan akan segera dikembalikan dengan tidak ada batas waktu.

Kemudian Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fedrik Adhar menanyakan, setelah tahun 2011 dilakukan PPJB dan saksi mengetahui bahwa 5 AJB tersebut diagunkan, saksi melakukan penagihan-penagihan terus. Saksi melakukan gugatan perdata pada tahun 2013, saksi dijanjikan perdamaian dengan dibuatnya akta perjanjian oleh terdakwa tahun 2014 dan terus menagih. Akhirnya baru tahun 2017 setelah 6 tahun baru dikembalikan sebagian oleh Terdakwa, Saksi menjawab dengan tegas benar sekali pak jaksa. (H.Yusuf)

 365 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *