Sidang Perkara Penggelapan dan Penipuan, Saksi Beberkan Terdakwa Tedja Widjaja Melakukan Rangkaian Kebohongan dan Penggelapan

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang perkara penggelapan dan penipuan dengan terdakwa Tedja Widjaja kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Rabu (09/01/2019).

Dalam agenda sidang kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fedrik Adhar didampingi Emma masih mendengarkan keterangan saksi pelapor Ketua Dewan Pembina Uta’45 Rudiyono Darsono. Dihadapan Ketua Majelis Hakim Tugiono SH saksi membentah pernah ada pembayaran sebagaimana yang ditanyakan oleh tim Kuasa Hukum Terdakwa.

Klaim Terdakwa Terpatahkan. Semua bukti transfer adalah transfer pribadi

Dalam kesaksian saksi pelapor Rudyono Darsono pada 09 Januari 2019 di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, tidak ada satupun yang terbukti bahwa semua bukti transaksi yang digunakan oleh Terdakwa terkait dengan transaksi 5 AJB, bahkan dengan tegas dikatakan oleh penasehat hukum Terdakwa bahwa  semua transaksi ditransfer ke rekening pribadi Rudyono Darsono bukan ke rekening Yayasan. Saksi pelapor Rudyono Darsono turut membenarkan bahwa transaksi tersebut ke pribadi dengan diperlihatkan bukti hutang-hutang pribadi Terdakwa terhadap saksi dan pembayaran lain diluar transaksi 5 AJB tersebut.

Majelis Hakim dan semua pengunjung yang menyaksikan serta dicatat oleh Panitera  Boby, bahwa Terdakwa ingin mencampur adukan semua transaksi pribadi yang seolah-olah telah membayar transaksi terkait 5 AJB tersebut. Bahkan semua bukti transaksi pembayaran yang di klaim oleh Terdakwa untuk pembayaran tanah hanya dibuat tanda terima dan tulisan sepihak dari Terdakwa yang mana tidak sesuai dengan Akta No. 117 tahun 2006 dalam Pasal 1 butir h,apabila dilakukan pembayaran tanah harus ada tanda terima atau kwitansi yang dibuat tersendiri. Bahkan Jaksa Penuntut Umum Sdr Fedrick Anhar lah yang dapat membuktikan kwitansi atau tanda terima yang dibuat tersendiri.

Semakin terang bahwa terdakwa ingin mencampuradukan semua transaksi yang ada seolah-olah telah/pernah membayar terkait transaksi 5 AJB tersebut. Terdakwa Tedja Widjaja mengakui akta 28 tahun 2011 tentang pernyataan yang dibuat Terdakwa bersama istri

Pada pembahasan tentang akta 28 tahun 2011 terkait pernyataan yang dibuat Terdakwa bersama istri, pimpinan penasehat hukum Terdakwa menanyakan dan menuduh saksi pelapor Rudyono Darsono mengatakan bahwa 5 AJB tersebut belum sempurna. “Justru kamu salah, yang nyatakan 5 AJB itu belum sempurna sesuai di dalam akta No.28 tahun 2011 tersebut adalah si pembuat pernyataan, yaitu Terdakwa. Bukan Rudyono Darsono,” jawab saksi tegas.

Kemudian, ketika ditanya oleh Majelis Hakim, Terdakwa membenarkan keterangan saksi Rudyono Darsono terkait apakah di dalam akta N0. 28 tahun 2011 tidak masuknya akta No.58 tahun 2009. Menurut Terdakwa apakah Akta No. 28 tahun 2011 mencantumkan akta No. 58 tahun 2009 ? Terdakwa menjawab: Tidak yang Mulia. Ketika ditanya kembali, berarti sama dong dengan keterangan saksi ini ? Terdakwa menjawab dengan kebingungan: Benar yang Mulia.

Semakin meyakinkan bahwa tidak ada pembayaran terkait transaksi 5 AJB yang dilakukan terdakwa kepada pihak yayasan Untag. Berupaya lolos, Terdakwa berubah-ubah keterangan dalam BAP, Gelar Perkara, Konfrontasi dan di Persidangan

Pada pembahasan tentang Bank Garansi yang dijanjikan Terdakwa kepada saksi Rudyono Darsono agar mau menandatangani 5 AJB tersebut walaupun belum ada pembayaran yang diakuinya pada BAP Terdakwa di penyidik yang mana pada tanggal 15 Mei 2018 bahwa Terdakwa mengakui pada pemeriksaan sebelumnya tanggal 11 Oktober 2017 pernah menyerahkan uang sebesar Rp.16 untuk pengurusan Bank Garansi yang dijanjikan Terdakwa kepada saksi Rudyono Darsono, akan tetapi tidak diakuinya pada persidangan. Padahal Rahayu sebagai kepala keuangan saat itu yang notabene adalah staff Terdakwa mengakui dalam keterangan BAP tanggal 18 Oktober 2017 pada poin 9 bahwa benar sekitar tanggal 5 Mei 2010 dikantor yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta (diruang kerjanya Rudyono Darsono) saya menyerahkan uang tunai senilai Rp.16 juta.

“Saya menyerahkan uang tunai Rp.16 juta kepada Sdr Rudyono Darsono atas perintah Terdakwa untuk biaya operasional dan administrasi penerbitan Bank Garansi untuk jaminan transaksi jual beli-tanah Yayasan Untag,” ungkapnya saat itu.

Belum lagi pada konfrontir di Polda Metro Jaya sudah dijelaskan bahwa bukti tanda terima dari saksi pelapor adalah hak dan kewajiban dari Terdakwa untuk menyimpan atau tidak menyimpan, tidak ada hubungannya dengan saksi pelapor.

Menunjukkan keterangan terdakwa selalu berubah-ubah di setiap pemeriksaan atau persidangan. Saksi beberkan zero pembayaran setelah aset dipecah dan dijual tanpa izin

Di akhir persidangan, Jaksa Penuntut Umum, Fedrick Adhar memberikan pertanyaan kepada saksi Rudyono Darsono : menurut saksi, setelah persidangan selama ini dan bukti-bukti transaksi yang dikeluarkan oleh pihak Terdakwa dan setelah 5 AJB tersebut diagunkan ke Bank serta tanah dijual tanpa izin, apakah Terdakwa pernah punya niat atau membayar kepada pihak Untag? Saksi menjawab,”Tidak pernah, bahkan yang ada saya diberikan akta No. 28 tahun 2011 tentang pernyataan dari Terdakwa dan istrinya. Saya tidak butuh surat pernyataan yang di Notariskan, saya butuh pembayaran,” tegas Rudyono Darsono.(Herman)

 305 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *