Diduga Palsukan Dokumen Lelang, PA dan PPK Diminta Black List Kontraktor RS Pratama Payung

Bangka, JAPOS.CO – Akibat molornya pelaksanaan proyek pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Pratama Payung. Perusahaan kontraktor pelaksana pekerjaan sontak menjadi perhatian sejumlah Jurnalist dan pegiat anti korupsi di Bangka Belitung. Mereka tertarik untuk menelisik sejauh mana kelengkapan persyaratan dokumen lelang PT Jaya Semanggi Enjinering dengan fakta yang ada di lapangan.

Dari pantauan di lapangan, ditemukan sejumlah personil inti yang namanya terdaftar dalam SKA dan SKT milik PT Jaya Semanggi Enjinering tidak ada di lokasi, Rabu (12/12/2018). Anehnya personil yang tidak terdaftar justru menjadi pengawas lapangan maupun kepala tukang dalam pelaksanaan proyek pembangunan RS Pratama.

“Bisa ketemu dengan Manager Proyek Pembangunan RS Pratama ini gak,” tanya Cristiono Doni salah satu Jurnalist, Rabu (12/12/2018).“Maaf pak. Kebetulan gak masuk,” jawab salah satu pekerja.

Kalau kuasa lapangan ada gak ya ? Tanya Critiano Doni lagi.”Oh di situ pak,” jawab pekerja seraya menunjuk kepada seseorang yang bernama Apui yang berjarak kurang lebih 50 meter.

Apui sendiri saat ditanya terkait posisinya dalam proyek pembangunan RS Pratama. Dia mengaku sebagai kuasa lapangan dan diakuinya jika dia telah lama bekerja ikut kontraktor Teddy Halim.

“Ya Pak. Saya di sini ditunjuk sebagai kuasa lapangan. Saya memang sudah lama bekerja ikut Pak Teddy Halim,”akunya.

Hal senada juga diakui PPK proyek pembangunan RS Pratama, Yudi. Menurut Yudi, PT Jaya Semanggi Enjiniring itu direkturnya Edi Firdaus dan telah menugaskan beberapa orang selaku kuasa lapangan terkait pelaksanaan proyek pembangunan di lapangan.

“Yang saya tahu pak Edi Firdaus direkturnya PT Jaya Semanggi Enjiniring. Saya taunya dilapangan saya ketemu pak Apui selaku pelaksana lapangan, juga Pak Fadli dan Toto. Yang lainnya saya tidak tau,” tukasnya.

Apakah ketiga nama tersebut merupakan personil inti seperti yang tercantum dalam SKA dan SKT? Dikatakan Yudi jika pertanyaan itu lebih baik ditanyakan ke Fadli selaku Pelaksana Lapangan.

“Bagusnya hal tersebut ditanyakan ke Pak Fadli, sebab beliau yang lebih tau. Nanti saya kasihkan nomor kontaknya,”elak Yudi.

Sementara itu, Fadli saat dihubungi via telepon mengaku jika memang dirinya yang ditugaskan sebagai Pelaksana Lapangan dari PT Jaya Semanggi Enjiniring, sedangkan Apui hanya kepala mandor.

“Saya yang ditugaskan sebagai Pelaksana Lapangan, sedangkan Apui sabagai kepala mandor dan kebetulan saya kemarin sedang check up jadi tidak ke lokasi,”ujar Fadli, Kamis (13/12/18).

Saat disinggung apakah dirinya yang ditugaskan selaku Pelaksana Lapangan dan namanya tercantum dalam dokumen lelang? Dan apakah Apui selaku kepala mandor juga terfdaftar dalam SKA /SKT ? Jawab Fadli bahwa namanya ada tercantum dalam dokumen selaku pelaksana lapangan, sedangkan Apui diakuinya tidak ada namanya dalam dokumen lelang.

“Kalau saya selaku pelaksana lapangan tercantum dalam dokumen, tapi Apui memang tidak ada dalam dokumen,” akunya.

Terkait hal itu, Deddy selaku wakil ketua LSM Gebrakk Sriwijaya Babel secara tegas meminta pihak PA dan PPK segera melakukan pemutusan kontrak dan memasukkan perusahaan PT Jaya Semanggi Enjiniring ke dalam daftar hitam perusahaan karena diduga telah melakukan pemalsuan dokumen.

“Kami minta perusahaan PT Jaya Semanggi Enjiniring ini diputus kontraknya dan black list karena dugaan ada unsur pemalsuan dokumen. Sebab SKA SKT pekerja jadi syarat yang bisa membuat perusahaan menang/kalah dalam lelang. Kalau hal ini tidak dilakukan maka berbuntut panjang. Sebab saya bersama lembaga akan melaporkan kasus ini ke aparat penegak hukum di Jakarta, ” tandasnya. (Oby)

 2,320 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *