Saksi Fakta Bambang Prabowo Merasa Terancam/Diteror Oleh OTK

Jakarta, JAPOS.CO – Bambang Prabowo yang sebelumnya menyatakan kesiapannya menjadi saksi fakta dalam kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Tedja Widjaja mengaku jiwa nya terancam oleh sekelompok orang yang tidak dikenal.

Kelompok peneror itu mengawasi dan menguntit dirinya hampir setiap keluar rumah. Peneror  bahkan dengan mendatangi kantornya. Namun Bambang Prabowo, yang mantan kuasa terdakwa Tedja Widjaja mengaku tidak tahu apa sesungguhnya yang dimaui para peneror itu.

“Yang saya tahu dan rasakan peneror ini telah menimbulkan ketakutan baik terhadap diri saya, istri maupun anak-anak saya. Bahkan juga kerabat. Saya dan keluarga merasa terancam,” tutur Bambang usai sidang kasus penipuan dan penggelapan terdakwa Tedja Widjaja di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Kendati susul-menyusul teror dan intimidasi yang diterimanya, Bambang Prabowo yang hendak bersaksi demi terang benderangnya kasus penipuan dan penggelapan aset Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UTA 45) berupa tanah senilai Rp.60 miliar, tidak menyebabkan dirinya berkeinginan mundur menjadi saksi fakta.

“Saya akan membuka seterang benderangnya kasus itu, dan saya tahu semuanya. Saya siap menanggung atau menghadapi apapun yang terjadi sebagai konsekuensi dari kesiapan saya menjadi saksi fakta dalam kasus yang merugikan perguruan tinggi almamater saya itu,” ucap Bambang Prabowo.

Meski demikian, Bambang mengaku juga telah mengajukan surat permohonan perlindungan terhadap Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). “Saya berharap LPSK juga akan memberikan perlindungan yang saya butuhkan. Sebab, saya juga bakal menjadi saksi terkait kasus dugaan suap dan korupsi di UPPRD Tanjung Priok yang telah saya laporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” ucap Bambang Prabowo.

Sedianya, Rabu (28/11/2018) akan didengar keterangan Bambang Prabowo sebagai saksi fakta dalam kasus penipuan dan penggelapan Tedja Widjaja. Namun penasihat hukum Tedja Widjaja protes. Mereka meminta yang diperiksa terlebih dulu saksi pelapor atau korban Ketua Dewan Pembina Yayasan UTA 45 Rudyono Darsono. Namun Rudyono berhalangan hingga majelis hakim PN Jakarta Utara pimpinan Tugiono SH MH memeriksa Bendara Umum dan Bendahara I Yayasan UTA 45, Yovita dan Surati.

Kedua saksi ini pun sempat ditolak untuk memberi keterangan oleh pembela Tedja Widjaja. Mereka memaksa agar Rudyono Darsono dimintai keterangan terlebih dulu. Akhirnya hakim memperingatkan para pembela kalau yang diminta itu dipenuhi maka akan terjadi pelanggaran asas persidangan murah dan cepat. Hakim memutuskan memeriksa Surati dan Yovita. Rudyono Darsono dan Bambang Prabowo pada sidang berikutnya.

Menurut Bambang Prabowo, dirinya sudah meminta  ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara dan ke majelis hakim agar diberi kesempatan bersaksi dahulu sebagai saksi fakta. “Demi kebenaran dan keadilan, saya kira kehadiran saya sebagai saksi fakta justru bakal membuat kasus penipuan dan penggelapan ini terang benderang,” tutur Bambang.(H.Yusuf)

 232 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *