Harga Sawit Dilabuhanbatu Anjlok, Daya Beli Masyarakat Menurun

Labuhanbatu,  JAPOS.CO – Petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu Sumatera Utara mulai mengeluh karena harga penjualan Tandan Buah Segar (TBS) semakin melemah, mulai dari harga Rp. 600 –  900 per Kg.

Salah satu petani kelapa sawit dari Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Serasi (50) menyampaikan kalau dirinya mulai khawatir dengan situasi ekonomi sekarang ini, karena keluarganya hanya berpenghasilan dari lahan kelapa sawit seluas 5 Ha yang dimilikinya untuk membiayai dua orang anaknya yang duduk dibangku kuliah.

“Saya sudah mulai khawatir pak dengan situasi sekarang ini,  saya hanya berprofesi sebagai petani kelapa sawit dan dari hasil kelapa sawit ini lah saya memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya dua orang anak saya yang sedang kuliah serta setiap bulan saya harus menyiapkan Rp.8 juta. Dengan harga sekarang ini Rp. 600 per kg sudah jelas kebutuhan keluarga tidak terpenuhi,” jelas Serasi.

Serasi juga mengaku harga TBS kelapa sawit di daerahnya mencapai Rp. 600 per kg karena musim hujan. “Karena hujan dan akses jalannya hancur, sehingga harus mengeluarkan biaya langsir dengan menggunakan sepeda motor untuk sampai ke tempat penimbangan,” tutur Serasi.

Ditempat terpisah, Roni (45) pedagang sembako di Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara menyampaikan setelah harga kelapa sawit turun terus, penjualan sembako pun turun secara derastis.

“Hampir separuh omset penjulan berkurang dibanding dengan penjualan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh daya beli masyarakat menurun akibat harga kelapa sawit anjlok,” jelas Roni.

Pedagang sparepart mobil di Jl. Agus Salim Rantauprapat, Kabupaten Labuahanbatu, Sumatera Uatara Ajon (42) menyampaikan penjualan belakangan ini sepi.

“Untung masih ada perusahaan perkebunan yang berlangganan disini, kalau tidak, anggota yang kerjapun tidak sanggup lagi kita menggajinya. Kalau mobil masyarakat yang servis sudah jarang,” jelas Ajon.

Hal senada juga disampaikan oleh pedagang jus buah dan air tebu yang berada di Jl. Sisingamangaraja depan SPBU Simpang Mangga Rantauprpat, Kabupaten Labuhanbatu.

“Belakangan ini jus buah dan air tebu kurang laku, mungkin akibat daya beli masyarakat menurun dan belakangan ini sering turun hujan, sebelumnya penjualan rata – rata jus buah mencapai 100 gelas/kap per hari dan belakangan ini paling 30 gelas per hari,” tandasnya.

Ketua DPC LSM Penjara Kabupaten Labuhanbatu Martobet Manalu menyampaikan kalau saat ini daerah perkebunan kelapa sawit dan karet mengalami krisis ekonomi,  sama halnya dengan Kabupaten Labuhanbatu ini yang diperkirakan 90 % merupakan perkebunan kelapa sawit dan karet. Saat ini harga TBS Kelapa sawit dan getah karet dibawah harga rata – rata, yang artinya pendapatan petani tidak sesui dengan biaya oprasional, ditambah lagi harga pupuk yang cukup tinggi, seperti pupuk NPK saja harganya rata-rata diatas Rp.250.000 per sak dan juga akses jalan pertanian yang belum memadai, sehingga petani harus mengeluarkan biaya trasport yang cukup besar untuk mengeluarkan hasil pertanian.

Martobet berharap agar Kabupaten Labuhanbatu kedepannya ditata kembali oleh pemerintah, khususnya Dinas Pertanian dan Perkebunan agar tidak hanya sebagai penghasil kelapa sawit dan karet, tetapi penghasil komoditi lainnya, seperti coklat, kopi, cengkeh, durian dan lainya sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan.

“Begitu juga dengan areal persawahan yang masih ada supaya dipertahankan dan tidak dialih fungsikan,” jelas Martobet Manalu.(At) 

 173 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *